Antara Ilmu dan Akhlak

- Selasa, 28 Juni 2022 | 11:34 WIB
Hermansyah Kahir. (KabarFajar.com)
Hermansyah Kahir. (KabarFajar.com)

Oleh: Hermansyah Kahir

Belajar di Tarbiyatul Mu’allimien Al-Islamiyah (TMI) Al-Amien Prenduan (2004-2006)

Islam mendorong umatnya untuk terus belajar agar menjadi pribadi yang berilmu luas dan memiliki kualitas diri yang unggul.

Anjuran menuntut ilmu bisa kita temukan dalam surat yang pertama kali Allah wahyukan kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu surat Al-Alaq di mana Allah memerintahkan Rasulullah dan umatnya untuk membaca sebagai media untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.

Begitu pentingnya kedudukan ilmu sehingga Allah memberikan berbagai keutamaan kepada para penuntut ilmu, yang salah satunya adalah memudahkan jalannya menuju surga.

Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah dalam hadisnya, “Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan untuknya jalan menuju surga” (HR. Bukhari & Muslim). Memiliki ilmu tentu saja menjadi impian setiap orang.

Kaya ilmu membuat seseorang berwawasan luas, cerdas, dan kreatif. Semua itu dapat diperoleh melalui sekolah, belajar otodidak, berdiskusi, meneliti, dan menulis. Namun, banyak orang yang sering kali bertanya; apakah orang yang berilmu secara otomatis akan memiliki perilaku baik?

Tentu, jawabannya bisa beragam. Ada yang berpendapat bahwa orang yang berilmu secara otomatis perilakunya menjadi baik. Begitu pun sebaliknya, orang yang miskin ilmu tidak akan memiliki akhlak baik. Sementara yang lain berpendapat bahwa kaya ilmu tidak serta-merta menjadikan seseorang berperilaku baik.

Dalam kehidupan nyata acap kali kita menemukan orang yang secara intelektual ia alim dan cerdas, tetapi sering melakukan perbuatan yang menyimpang. Banyak orang berpendidikan tinggi, tapi justru korupsi, arogan, tidak mau menghormati yang lebih tua, bahkan suka menyebarkan fitnah di tengah masyarakat.

Alih-alih memberikan manfaat dengan ilmunya, orang model seperti justru hanya menyebabkan kerusakan (mafsadat) di tengah masyarakat.

Menurut Ulil Abshar Abdalla, saat ini kita hidup di era di mana banyak orang ingin belajar setinggi-tingginya dan menjadi orang alim, tetapi tujuannya sekadar untuk mengejar sesuatu yang bersifat duniawi.

Mencari ilmu tidak diarahkan pada tujuan mengharap ridha Allah SWT. Inilah yang disebut sebagai instrumentalisasi ilmu, yaitu ilmu yang sekadar dijadikan sebagai alat untuk mencapai tujuan yang sifatnya sesaat.

Kita juga sering menjumpai orang dengan keterbatasan ilmu, tetapi ia memiliki perilaku yang baik, sopan terhadap sesama, murah senyum, dan suka membantu orang lain. Keterbatasan ilmu disebabkan karena mereka memang kurang peduli terhadap ilmu pengetahuan. Mereka merasa cukup dengan ilmu seadanya. Hidup damai dan tidak menyakiti orang lain itu sudah cukup bagi mereka.

Dari uraian tersebut, ada dua kelompok manusia kaitannya dengan ilmu dan akhlak. Kelompok pertama adalah mereka yang hanya mementingkan ilmu dibandingkan akhlak.

Halaman:

Editor: Farid Wudjy

Tags

Artikel Terkait

Terkini

NU

Minggu, 5 Februari 2023 | 10:32 WIB

Estafeta Kepemimpinan Muda di Banten

Jumat, 27 Januari 2023 | 16:16 WIB

1 Abad NU

Minggu, 22 Januari 2023 | 20:57 WIB

Kilas Balik Sosok Mujaddidul Islam Abad 20

Minggu, 22 Januari 2023 | 13:48 WIB

Akhlak Bangsa

Minggu, 22 Januari 2023 | 10:54 WIB

Jalan Panjang Calon Senator

Rabu, 18 Januari 2023 | 10:15 WIB

KKM di Kampung KB

Selasa, 17 Januari 2023 | 13:38 WIB

Tanggung Jawab Moral Cendekiawan

Jumat, 13 Januari 2023 | 10:01 WIB

77 Tahun Kemenag Mengabdi

Selasa, 3 Januari 2023 | 06:59 WIB

3 Kunci Hadapi Tahun Baru 2023

Sabtu, 31 Desember 2022 | 17:29 WIB

Geliat Investasi Didominasi Milenial dan Gen Z

Rabu, 28 Desember 2022 | 07:34 WIB

Perisai 3 Ibu

Jumat, 23 Desember 2022 | 13:19 WIB

Rekonsiliasi UAKPA-KPPN: Dulu dan Sekarang

Jumat, 23 Desember 2022 | 08:08 WIB

MANAJEMEN DAM

Selasa, 20 Desember 2022 | 07:56 WIB

IBU

Senin, 19 Desember 2022 | 05:47 WIB
X