Azan dan Fenomena Nyinyir

- Jumat, 25 Februari 2022 | 20:32 WIB
Hadi Susiono Panduk. (Dok. pribadi)
Hadi Susiono Panduk. (Dok. pribadi)


Oleh: Hadi Susiono Panduk

Alumnus Pondok Pesantren Sabilillah, Al-Khoirot-Al-Ma’ruf, MA Nahdlatul Muslimin Kudus Grobogan-Malang dan Jurusan Linguistik Sastra Inggris Universitas Diponegoro Semarang serta Wakil Rais Syuriyah MWC NU Bayah, Lebak Banten.

Dunia media sosial (medsos) sebut saja Twitter, Instagram, Facebook atau aplikasi ‘yang diakuisisinya’ WhatsApp, tak jarang berisikan nyinyiran dari membernya. Nyinyir?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia versi daring, “nyinyir diartikan ‘mengulang-ulang perintah atau permintaan, nyenyeh, cerewet’.

Dalam kamus tersebut dicontohkan, "Nenekku kadang-kadang nyinyir, bosan aku mendengarnya.” Jadi, kata nyinyir berasosiasi negatif.

Dalam pergumulan sosial, nyinyir sudah merambah dan menjadi virus dalam ruang-ruang komunikasi publik, dan pelakunya bervariasi, dari para pemuka hingga mereka yang menjadi follower. Bahan nyinyirannya juga variatif bahkan terkadang dadakan, semacam tahu bulat yang terkenal itu.

Misalnya, nyinyiran politik yang diucapkan lawan politik, nyinyiran bawahan kepada atasan, nyinyiran dalam pertemanan, ada juga lho, nyinyiran dalam perdakwahan. Yaah. Begitulah adanya.

Fenomena nyinyir sebetulnya berasal dari ketidakpuasan, kedengkian, atau faktor ketidaksukaan, dislike atas sesuatu hal. Dengan nyinyir, pelakunya merasa tersalurkan kejengkelannya, atau bahkan rasa dendamnya, meskipun biasanya konstruksi kalimat yang terdapat pada nyinyiran tidak berimplikasi secara luas bagi pihak yang menjadi objek penderita nyinyir.

Beda halnya dengan hoaks atau sindiran pedas dengan diksi kata yang jelas, tidak bias dan menohok. Dengan istilah lain, nyinyir ini bisa diartikan hit and run, dalam dunia tinju. Pihak yang nyinyir ‘memukul’ pihak lain dan kemudian ‘lari.’ Begitulah pola seterusnya.

Setiap dari kita yang berhubungan dengan media sosial pasti pernah nyinyir, tergantung levelnya; ringan, sedang, ataupun akut. Sejatinya, kita bisa mengubah nyinyiran itu menjadi kritikan yang bersifat konstruktif-solutif, tapi syaratnya sangat berat, yakni mengeliminasi sikap like-dislike yang membutakan kita dalam melihat sebuah fenomena.

Halaman:

Editor: Farid Wudjy

Tags

Artikel Terkait

Terkini

NU

Minggu, 5 Februari 2023 | 10:32 WIB

Estafeta Kepemimpinan Muda di Banten

Jumat, 27 Januari 2023 | 16:16 WIB

1 Abad NU

Minggu, 22 Januari 2023 | 20:57 WIB

Kilas Balik Sosok Mujaddidul Islam Abad 20

Minggu, 22 Januari 2023 | 13:48 WIB

Akhlak Bangsa

Minggu, 22 Januari 2023 | 10:54 WIB

Jalan Panjang Calon Senator

Rabu, 18 Januari 2023 | 10:15 WIB

KKM di Kampung KB

Selasa, 17 Januari 2023 | 13:38 WIB

Tanggung Jawab Moral Cendekiawan

Jumat, 13 Januari 2023 | 10:01 WIB

77 Tahun Kemenag Mengabdi

Selasa, 3 Januari 2023 | 06:59 WIB

3 Kunci Hadapi Tahun Baru 2023

Sabtu, 31 Desember 2022 | 17:29 WIB

Geliat Investasi Didominasi Milenial dan Gen Z

Rabu, 28 Desember 2022 | 07:34 WIB

Perisai 3 Ibu

Jumat, 23 Desember 2022 | 13:19 WIB

Rekonsiliasi UAKPA-KPPN: Dulu dan Sekarang

Jumat, 23 Desember 2022 | 08:08 WIB

MANAJEMEN DAM

Selasa, 20 Desember 2022 | 07:56 WIB

IBU

Senin, 19 Desember 2022 | 05:47 WIB
X