• Kamis, 2 Desember 2021

Marriage Without Child is a Lifestyle?

- Senin, 13 September 2021 | 22:23 WIB
Ilustrasi pasangan tanpa anak. (Pixabay)
Ilustrasi pasangan tanpa anak. (Pixabay)



KABARFAJAR-Akhir-akhir ini banyak sekali yang membicarakan mengenai pernikahan tanpa memiliki anak atau dikenal dengan childfree, topik ini sudah menjadi pembicaraan yang hangat di kalangan pasangan milenial.

Topik mengenai childfree sangat kontroversial mengingat pembahasanya yang bertentangan dengan tradisi dan pandangan kehidupan pernikahan dari masyarakat Indonesia.

Childfree di Indonesia, pertama kali dibahas oleh Gita Saviti Devi, seorang Youtuber asal Indonesia yang tinggal di Jerman. Dia memutuskan untuk tidak memiliki keturunan dengan alasan bahwa seorang perempuan memiliki otoritas terhadap tubuhnya dan seorang perempuan tidak memiliki kewajiban untuk menjadi seorang ibu.

Baca Juga: Mengenang Kelahiran Paul Walker, Pemeran Brian O'Corner dalam Film Fast and Furios

Menurutnya memiliki keturunan adalah hak dan keputusan yang seharusnya dibuat oleh perempuan karena perempuan yang memiliki tanggung jawab lebih besar dalam mendidik seorang anak. Terlebih lagi, tanggung jawab melahirkan dan menyusui adalah tugas yang hanya dapat dilakukan oleh seorang perempuan.

Childfree ini menimbulkan dua pihak yang saling bertentangan. Pihak pertama adalah kelompok yang mendukung childfree. Menurut pihak yang mendukung, childfree adalah keputusan bijak yang dapat diambil oleh pasangan apabila mereka tidak memiliki kesiapan secara emosional dan finansial untuk membesarkan sorang anak.

Baca Juga: Bioskop Kembali Buka, Siapkan Pasangan dan Pastikan Sudah Divaksin

Pihak kedua mengatakan bahwa childfree ini adalah keputusan yang diambil dari sikap egois pasangan. Childfree bahkan dikait-kaitkan dengan ajaran agama, pasangan yang memutuskan childfree akan memiliki krisis dalam menjalin hubungan pernikahan dan akan merasa kesepian di hari tua mereka.

Menurut Victoria Tunggono anggota Indonesia Childfree Community yang menulis buku Childfree and, terdapat 50 lebih alasan mengapa pasangan memutuskan childfree yang kebanyakan alasanya didasarkan dari sisi psikologi dan genetik.

Seperti alasan bahwa pasangan tersebut berasal dari keluarga toxic sehingga mereka takut anaknya mengalami hal serupa, pasangan berasal dari keluarga yang miskin sehingga mereka tidak mau membawa anak mereka ke dunia yang kejam, dan pasangan LGBT yang takut akan pandangan anaknya terhadap mereka.

Apa pun alasan dan faktor mengenai childfree ini seharusnya kita bisa memberikan reaksi yang bijaksana dan tetap rasional tanpa memberikan berbagai tuduhan negatif dan memberikan stigma terhadap pandangan yang dimilki setiap individu.(Laila Rahmah Zahranie/Kabar Fajar)
      

Editor: Agus Iryana

Tags

Terkini

X